Tampilkan postingan dengan label HaruQa fLowers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HaruQa fLowers. Tampilkan semua postingan

Seandainya Hati Adalah Sebuah Naskah

Cinta sejati memang kedengaran gombal saat dikatakan. Tapi mau gimana lagi? Seandainya hati adalah sebuah naskah, maka kita bisa tahu semua yang tertulis di dalamnya. Tapi sayang, hati tetaplah hati, bukan naskah ataupun buku agenda.

Jadi .. Kita hanya bisa mengatakan apa yang kita rasa. Dan hati orang siapa yang tahu? Hanya kita sendiri. Kalau kita yakin apa yang kita rasa ini benar, kenapa harus bermain teka-teki dengan hati seseorang?

Yakinlah dengan Cinta

Thank's Mam

Merpati ku,
Kemana hendak kau bawa kepak dua sayapmu. Kau ingin terbang tinggi, menembus awan putih tanpa batas? Dan meninggalkan aku sendiri bersama dengan angan yang sejatinya kurenda untukmu ?

Merpati ku,
Adakah angkasa raya dengan segala pesonanya telah menyilaukan mata batinmu ? Apakah indahnya warna warni dunia mampu meluruhkan segala asa yang pernah ingin kurajut untukmu ?

Merpati ku,
Ku sadari, bukan singgasana berhias permata yang ku tawarkan padamu. Tapi percayalah, kupersembahkan semua itu dengan penuh ketulusan hingga di dalamnya akan kau rasakan kesejukan. Bukan pula istana berpayung emas yang kuciptakan untukmu, tapi percayalah, kubangun semua itu dengan penuh keikhlasan, hingga tak ada lagi yang kau temukan di setiap sudut ruangnya, selain kedamaian.

Merpati ku,
Jika semua itu tak cukup untuk membuatmu bahagia, kan ku biarkan kau terbang tinggi dengan membawa serta segala anganmu, karena tak kuasa kumenghalangi langkahmu untuk meraih kebahagianmu. Bentangkan dua sayapmu, hingga pada saatnya kau mampu meraih segala impianmu itu.

Namun, saat segala keindahan itu tak lagi mampu memberikan kebahagiaan hakiki kepadamu, kembalilah, karena ada istana cinta yang telah aku siapkan untukmu yang selalu setia menanti hadirmu.

My Way

Ada waktu-waktu yang pasti kau tahu, ketika yang kau gigit lebih banyak dari yang dapat kau kunyah. Tapi dari itu semua, ketika ada keraguan, kumakan semuanya. Kuhadapi dan kuberdiri dengan teguh. Dan kulakukan dengan caraku.

Aku mencintai, aku tertawa, aku menangis. Kurasakan kejemuan dan keraguan. Kini

Butuh Waktu

Sobat,
Andai kau mendengar isi hatiku, mungkin kau akan tertawa. Betapa sebenarnya aku terkadang merasa damai yang tiada peri bila dapat berbincang denganmu. Juga kadang bila dalam kesunyian, sering aku ingat kamu, ingat keanehanmu, ingat kemunafikanmu, juga ingat kelucuan kita sebagai insan yang kadang dibuai emosi.

Be My Self

Walau berat, namun tetap mencoba untuk tampil sempurna. Walau itu berarti harus berbohong pada diri sendiri.
Tapi kini setelah semuanya berlalu, ternyata jauh lebih baik bila jadi diri sendiri, jauh lebih bebas, jauh lebih jujur.

Meskipun kadang sangat berat melihat keadaan yang ada, keadaan yang kenyataannya tidak seperti yang kita bayangkan, keadaan yang membuat kita enggan untuk membuka tabir kepalsuan.
Dan keadaan yang membuat kita malu untuk mengakui bahwa memang adanya seperti ini. Namun tetap lebih baik begini, karena kita adalah kita, bukan mereka atau siapapun.

Mau kemana hidup ini membawa kita, tetaplah menjadi diri kita. Namun bukan berarti harus menutup diri dari orang lain.


Yakin, pasti suatu saat nanti aku (kita) akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Serba Membingungkan

Ada banyak hal yang sulit untuk kumengerti tentang cinta. Bahkan ketika kucoba memikirkannya
semakin ku dibuat tak mengerti,
barangkali sikap diam dan pasrah adalah jawabannya.

Diam yang tidak bermakna putus asa, tapi benar-benar mengikuti kenyataan yang ada. Jalani saat ini meski terkadang tak sesuai dengan apa kata nurani.

Lalu, bagaimana agar tidak dikuasai oleh angkuhnya kenyataan?
Haruskah bersikap diam, dan
Menuruti kata hati sendiri?

Ataukah harus diam, dan
mendengar tegur sapa orang lain?
Entahlah.

Pesanku Belum Terkirim

Sebuah hasrat yang berangkat dari kepercayaan. Suatu rasa yang mengakar dari hati dan berkembang biak menjadi sekumpulan detak jantung di satu tempat yang disebut cinta.

Memang baru kusadari, bahwa pesan-pesan yang belum terkirim ini telah lama ada, dan keberadaannya pun terpinggirkan. Dan mungkin ini yang menyebabkan kepercayaan ini tak lagi bergairah untuk suatu apapun. "Suatu apa" itupun aku tak tahu, katakanlah "rindu" yang begitu kental di dalamnya.

Tapi aku masih dengan tradisi lamaku, tradisi yang memperdebatkan antara tutur kata dan suara hati, tentang siapa yang kan menduduki peringkat pertama di hatimu.

Semua ini kan terasa merdu saat kau mendengarnya. Bersama gerakan di tiap hurufnya yang menjadikanmu seakan lepas dari beban-beban. Bersama teman-teman yang kusapa dari tikungan lamunanku. Dari sebait kata yang kupungut di ujung sepiku.

Sudahlah,
Tak ada yang perlu diperdebatkan lagi.

Lupa Jalan Pulang

Dia berusaha keras untuk tidak menangis atas seseorang, karena setiap air mata bukanlah jawaban. Tapi satu yang Ia tidak tahu, bagaimana Ia membiarkan seseorang pergi saat dia menyadari betapa dia sangat merindukan sosok sepertimu.

Dia mencoba untuk menemukan kata-kata, untuk mengatakan apa yang dirasa. Tapi kata-kata tidak akan cukup untuk membuktikan bahwa ini adalah nyata. Kata-katanya telah hanyut dan mencair bersama hujan.

Sejauh apapun kita melangkah, sedalam apapun tutur kata yang terlontar, jika arah tujuan kita salah, pastikan kita kembali sembari bertanya :

"Kemana jalan pulanng? Aku lupa"

Tapi dari sini aku masih melihatmuan saat itu aku tidak bisa menahan senyum, kenapa? Karena ketika kau tersenyum, aku mendapati perasaan ini seperti halnya seorang anak kecil yang baru saja tebangun dari tidur.

Celoteh Bantal Guling

Seraya berbaring memeluk guling

Semakna kata semakin tak kumengerti

Malah semakin berpaling

Coba ganti posisiku

Lalu kutarik selimut

Dari ujung kaki sampai ujung rambut

Berharap ada huruf yang bisa kupungut

Entah dari limpahan nuansa kejora fajar yang tak berwujud

Entah dari malam yang makin tersudut

Atau dari sebaris doa yang baru saja kukecup

Ah sial sial sial

Sebenarnya kemana arah angin ini bertiup?

Wahai angin

Apa kata2mu telah habis untuk bisa kurajut?

Jangan tanya kenapa kau yang kutanya

Karena ini adalah malam

Tanpamu

Celoteh tintaku cepat kering

Dan garing

Sebab tertimpa sengatan mentari

Tanpamu

Ribuan bintang kecilmu

Takkan bisa kurebut

Untuk setiap kata yang kumaksud

Cuaca Malam Senin Ini Dingin

Musim penghujan,
Ya, memang ini musim penghujan. Marilah kita bercerita.

Kau mau, kan?

Ah, kau selalu terlalu banyak diam, atau aku yang selalu tidak punya banyak waktu ? Terbenam dalam langkah-langkahku sendiri, pada arahku sendiri.

Maaf, Marilah duduk bersamaku. Kita bercerita. Bukankah dulu kita pernah bercerita panjang? Aku lupa mengapa kita begitu sedih saat bercerita kali itu. Cerita yang diakhiri dengan tangisku. Juga tangismu. Kau, seharusnya kau tidak menangis.

Kita juga pernah bercerita lama setelah jauh dari percakapan kita sebelumnya. Kita akhiri dengan air mata juga.

Benarkah?

Mungkin, karena itu kau, ah, bukan kau, aku, kita, tidak pernah bercerita lama lagi. Kita tidak ingin menangis lagi. Benarkah? Tapi, marilah bercanda malam ini. Aku tidak akan membawakan cerita sedih. Aku juga tidak akan memarahimu. Aku tidak akan melakukan ini itu. Aku tidak akan membuatmu menangis.

Jadi, marilah duduk bersamaku, kita bercerita. Kita akan bicara tentang tawa. Atau, kita bicarakan tentang hujan saja?

Tahukah kau, dalam Desember dan Januari nanti, dalam butir2 hujannya yang jatuh, dia selalu menyelipkan cerita buatmu. Sebenarnya, tidak hanya Desember dan Januari. Selalu ada cerita untukmu yang terselip dalam setiap detak. Namun dalam Desember, hujan membawakan cerita rindu tentangmu, tentu saja. Kita akan selalu bercerita bersama. Tentang apa saja dan tidak akan kita akhiri dengan tangis, tentu saja.

Kita akan selalu bersama bahagia. Subuh datang tidak terlalu terburu2 kali ini. Ia masih di sini. Dan saat ia kembali, aku ingin titipkan satu cerita kepada-Nya, untukmu. Semoga sampai juga pesan singkat itu,

"Aku Rindu Kamu"

Relung hati tertoreh sayatan rasa
Dalam menempati dasar purba
Itu sebab bulan merindukan bumi
Seperti matahari merindukan awan
Kau & aku tak pernah salah rasakan ini

Kata demi kata
Rasa demi rasa

Wahai kau permata
Baluran rasa cinta telah meraja
Terpatri melekat di sisi jiwa.

Kado Tahun Baru 01 Januari 2011

Sayaang ...
Begitu aku panggil kamu di awal musim ini.
Marilah kita, ya, kita, itu berarti hanya kau & aku,
bersama2 melepas tahun 2010 dengan membakar
semua peristiwa yang telah berlalu yang hanya
menjadi masa lalu dengan nyala kembang api yang
menghiasi langit kita.
Hadirmu telah cipta sebuah cerita.

Ya, cerita penuh tawa ceria yg kini sentuh tirai jendela
hati dan hapus rajutan2 hari gulita.
Sibaklah mendung yg bergelayut. Hadirlah langit biru
tak berawan. Dan nuansapun kembali hadir tuk tak
kembali usik cerita lama.
Akupun tak tahu, harus mulai darimana aku kepakkan
tiap hurufku ini, apakah harus dari ujung rinduku ?
Sementara rinduku padamu tak pernah berujung.
Jemari ini seolah terpasung beku, seperti keluh lidahku
yang tak mampu lagi berdansa dengan kata.
Sayaang,
Catatlah satu bait saja sejarah tentang kita. Maka
dunia akan menunjukmu sebagai pelita hatiku. Tataplah
alunan waktu ketika pena kita sama-sama
menaburkan bulan di halaman cakrawala.
Semerbak oleh bunga rindu. Di bawah kerlip
gemintang. Terdampar dibalik ranjang mimpi. Di atas
pasir yang berkunang-kunang. Dan tenggelam hanyut
dalam
cinta dalam tenun kasih sayang kita.
Lalu,
kurasakan rengkuhan hangatmu dalam kegilaanku
akan pesonamu.
Ingin kusematkan kalimat yang mampu melukiskan
betapa indah pesonamu
Masih banyak waktu yah?
Iya,
Ternyata Masih banyak juga serpihan kata berserakan
yang harus kurangkai menjadi lagu cinta kita
Tapi,
Lelah juga jariku berlompat-lompatan kesana-kemari,
mencoba menangkap kata2 dari angin rindumu yang
sesekali berbisik :
"Rindukan Aku Selalu"
Lalu diam2 kucoba untuk menerjemahkan nafas rindu
yang telah kau hembuskan.
Seperti bulan dan bintang yang menggantung di antara
alis mataku juga matamu.
Biasnya menelusupi jari2 kita yang sedari tadi saling
menggenggam.
Jariku semakin berapi2 untuk terus mengembara di
hamparan senyummu dan kusandarkan tubuhku di
balik dinding kalbumu
ahh ... !
Semoga kau merasakan hangatku.
Sejenak nafas terhenti, kupandang seluruh ruang di
sekitarku yang terprosa, terdengar lantunan melodi
cinta, tenggelam di lautan kasih kita, tergenggam
sepucuk asa dalam belahan kalbu, dalam bait2 klasik
tentang cinta kita.
Biarkan saja, hanya kau dan aku, ya, kita.
Gurat2 rindumu selalu bersemayam, berharap rindu kita
kan tetap terpatri ...
"Ssstsstt ... !
"Diamlah sejenak !
"
"Kau dengar itu??"
Baru saja, beberapa detik yang lalu. Iya, suara itu,
suara alam pun turut meng"Amini" doa kita
Sayang ...
Sebentar ya ..
Aku bikin kopi dulu, 5 menit dehhh, yah paling telat 10
menitan lahh. Seperti biasa, aku seduh secangkir kopi
hangat
"Kau mau??"
Andai kau di sini, mungkin kopi kita akan terasa lebih
manis dengan taburan senyummu.
Sungguh serasi, perpaduan secangkir kopi & harmoni
malam, serta manis senyum dari bibir pengeja doa
cinta
Tau enggak say?
Mungkin malam ini aku takkan berhenti merangkai
kata untukmu, meski bulan tak hadir indahkan langit
malam, tapi kuyakin esok embun kan tetap teteskan
senyumnya di ujung ilalang.
Kembali lagi yuk ehmmm
Kembali lagi kutatap langit, siapa tahu kau muncul
tersenyum, muncul dari balik sepotong awan putih
Anganku pun melayang
Mendekatlah sayang,
Agar ku tak salah mengartikan bahasamu.
Genggam jemariku, bantulah aku untuk mencipta
sebuah nada lagu yang hanya kau & aku yang tahu,
lalu kita berdansa, menari di pucuk rindu, kau menari,
aku bernyanyi.
Jangan kau tengelam terpekur dalam kepedihan
Jangan kau kerucutkan manismu
terbujur beku dalam kesendirian
Aku peluk sayang ...
Sentuhlah selendang pelangi kita dengan deru
senyummu yang mengembang
Sayap2 kan selalu bertengger untuk mengiringi
perjalanan asa kita.
Sayaang ...
Mataku lelah
Maaf aku mengeluh, maukah kau daratkan segelitir
tawamu di telinga kiriku, tuk cairkan lagi otakku yang
beku?
Ingin kuakhiri tulisan ini,
tapi ....
"Apa coba?
"Apa ?
"hmmmm :D
"Itu ...
"
o_O?
Ingin sekali kulihat lagi lentik bulu matamu, bibirmu dan
rambutmu yang kau biarkan jatuh berderai di
keningmu
Terimalah hatiku wahai permata, simpan gelisahku
yang semakin gelisah
Aku masih menanti matahari dalam linang kabut pagi,
Sampai kapankah kita harus menanti?
"Saat musim berganti"
"Itu kataku kan?"
"Tentu itu kataku
"
Dan jangan pernah berubah,
meski detik demi detik kesunyian saling berkejaran
Sesaat rebahku menggundahkan tengadah
Nafasku mulai habis mengembang regang dan kempis.
Adalah hari ini yang juga tak peduli terlumat sepi.
Berpunuk rindu dalam genggaman malam
Kepada retina di bola matamu
Aku sungguh menikmati cintamu
dan pasti kutunggu.
Dalam bentang luas teorimu
Aku tahu, kau dekap aku di bawah langitmu, milikimu
sang damai di hatiku
Terindah tak hilang
Tersaput tak lekang
Takkan pudar diiris waktu
Janganlah kau buraikan bacaan bayangan ini dalam
indah cinta kita lewat lukisan tangismu
Pada bahasa yang paling dalam, sampaikan pesanku ini
untuk hatimu
Doa dan senyummu kan selalu abadi dalam taman hati.

Mengasuh Musim Rindu

Kini kita akan sedikit lebih mengerti tentang lagu ombak siang & malam yang mengibarkan rambutmu.
Sayap patah merpati yang tersangkut ranting kering menjadi tak berarti. Seperti ribuan kata-kata dari buku harianku yang
menggelembung bagai balon busa yang ditiupkan anak-anak kecil, lalu pecah di kebun belakang. Akupun
meloncat keluar dari jiwamu, karena aku ingin melihat dirimu yang sesungguhnya.


Saat kau membersihkan halaman rumah dari daun-daun yang lelah, aku telah mengembara ke
tempat-tempat yang pernah kau kunjungi, bertamu dan bertanya kepada rumput hijau, tapi tak jua menemukanmu,
kau di siitu?
Sayang, di mana dirimu?

Jangan kau hanya menakar keringat, menimbang beban yang semakin memberat, dan di tikungan jalan kau rubuh, menikam-nikam diri dengan rasa yang asing.
Jangan sayang ...
Dengarlah pengembaraan ini, matahari yang tegar menyeret cakrawala, dimanakah rasa lelah ia timbang pucuk-pucuk angin yang setia memimpin musim?
Di manakah rasa bosan ia tanggalkan? Dan kini lihatlah diri kita.

Pohon tak pernah menghitung berapa puluh ia akan berbuah,
bunga tak pernah menjerat diri untuk sebuahkeindahan.
Dan engkau, kenapa menangis di tepi jalan ? Sementara kita tahu, angin melintas bagai arus deras
sungai, mampu menghanyutkan siapa saja yang menyelami jiwamu saat matahari miring 175 derajat ke
cakrawala, dan hanya bila diri kita adalah jiwa yang penuh cinta, jiwa yang selalu riang dengan irama
seperti tawa-tawa camar di atas laut.

Perjuangan kita semakin bergemuruh, semakin kuat dengan angin tegar yang mengasuh musim
yang lapang, seperti langit menyediakan matahari untuk kita bangkit dengan penuh kemuliaan cinta
.

Carikan Aku Judul Yang Tepat

Akupun kembali dari perjalanan tadi siang yang terik. Peluhku bercampur motivasi yang bergetar di dada, menggenang imaji yang berenang di otak kananku hingga senja mengantarkan langkahku di awal purnama. Aku selalu menunggumu di sini, saat kau masih berjalan di gang kecil itu. Tanpa cahaya di kanan kirimu. Terangilah langkahmu dengan rinduku saat mati lampu malam itu. Aku berharap rindu ini menyerupai
rembulan yang menjadikan jalanmu terang.

Sesampainya di ujung jalan gelisah, aku ingin mencari lagi suara-suara binatang malam yang melagukan
langkah kita. Juga nafas yang terengah-engah beradu dengan nafas cakrawala yang menuntun kakimu. Langkahmu kian laju, aku ambil penaku dan kutulis bunyi nada sepatu hitammu.

Indah, saat dari nada C sampai nada G, tak satupun kudapati nada seperti langkahmu. Aku suka ^_^.
Langkah yang kau jejakkan adalah bukti gigihnya sepasang kaki & tanganmu yang berusaha melipat
jarak antara kita, kadang-kadang kita berteriak, kadang-kadang kita berdoa, dan kadang-kadang kita
menitik air mata.

Tapi aku masih disini, menunggumu pulang di waktu
pagi, di mana hujan dari segala musim menggenangi kata-kataku yang lusuh, Seperti danau di bawah bukit yang setia dan selalu siap menampung hujan dari
langit.

*BBbbbrrrrrR* dingin ...
Kunang-kunangpun tahu, angin menyamar seperti dirimu. Dan aku tak merasa dingin kecuali saat kau
berdesah.

Menunggu Malam

Jangan pernah merasa tersesat dalam mimpi panjang. Kau telah membuka hatiku ketika kau membuka matamu. Saat itu juga aku melihat fajar langit yang masih tersembunyi di balik retina matamu. Jangan khawatir sayang, itu bukan mimpi, hanya saja kau masih tertidur.

Coba bawa aku ke langitmu, di mana burung-burung selalu bernyanyi dan membawa kita ke halaman cakrawala. Di mana ada suara peri-peri kecil yang berterbangan di atasnya, sesekali berisik menggumam mencemburui
kita. Tidakkah kau merasakan angin malam ini begitu lembut dan ringan? Namun terasa dingin, maka aku panggil kau ke sini untuk menghangatkanku, ahh bukan aku, maksudku KITA.

Seringan awan saat kau mengajakku menggapainya
tuk meraih 1 mimpi di antara mimpi-mimpi kita yang berterbangan bersamanya. Mari kita tangkap 1 saja, lalu kita jadikan rumah sewaktu mendung dan hujan. Dan ketika matahari terbenam, kitapun masih melihat merahnya langit.

Wow ...
Senja, langit yang indah. Aku tahu dan yakin, kita masih bisa melihat langit lagi esok pagi. Dimana saat membuka mata, kita duduk berdampingan dan melihat ke bawah bukit. Sesekali berdiri di atas gunung yang tinggi. Lalu aku mengangkat tanganku tuk menyentuh langitmu, bukan, maksudku langit kita, karena hanya
kau dan aku yang ada di bawahnya.

Dan saat itu aku kan katakan :
"Ini adalah Dunia Kita"

"Sesuatu" Itu Hanya Sementara

Ada jua halangan kita tuk katakan sayang. Ada pula rintangan kita tuk katakan rindu. Jangan resah sayang
Itu hanya godaan. Dan sebentar lagi pasti berlalu darimu, dari kita, Karena rasa ini telah mengikat kita

Ada sesuatu yang membuat kita menghilang, ada sesuatu yang membuat kita jauh. Jangan resah sayang, Itu hanya godaan. Tetaplah tersenyum.

Ku tak bersuara bukan berarti ku tiada. Secerca pengertian kan menjawab semua tanpa keraguan.

Amin Ya Rabb

Sudah ribuan kali kita memerankan berbagai tokoh & watak dari panggung dunia, dimana kadang kita menjadi pahlawan atau penjahat yang urakan. Semua
peran yang kita mainkan kadang merupakan hasrat hati, namun juga karena kedudukan sang "Dalang".
Sudah ribuan kali suara tertawa kita menggema, namun sudah ribuan kali juga tetes air mata kita jatuh bersenyawa.


Diantara gemerlap dunia ini kita berada, di antara pentas dunia yang kadang orang lain tidak mau
tahu dan tidak ingin tahu. Diantara nada-nada sumbang atau merdu yang selalu mengiringi perjalanan ini, seperti bayang-bayang diri yang selalu menemani.

Aku ada karena "Dalang", aku ada karena adanya panggung, dimana setiap saat "Dalang" berhak
menutup tirai atau menancapkan gunungan tepat di tengah-tengah, dimana ada akhir pertunjukan ku dan aku hanya pasrah.

Ya Rabb ...
Bukalah Mata Hati Kami, Dia & Mereka

Amin

My Sweet Rose

Masih seperti kemarin, setiap aku menuliskan puisi cinta tentangmu, aku selalu lupa menoktahkan koma. Garis2 kertas yang bertahan menyangga ribuan kata yang ku
punya. Yah, seperti inilah aku seperti yang kau lihat sekarang.

Aku menuliskan ini di bawah lampu neon saat resah menguap dalam jendela nafas yang terbersit gundah. Di atas kertas putih yang telah kau warnai dengan tinta
cintamu. Kau adalah kemilau rindu yang akan aku bingkai menjadi sekuntum bunga yang takkan layu meski terikku berkepanjangan. Karena kutahu, aku telah tersesat di belantara cintamu.

Aku & kamu,
Saat jiwa bersatu. Terbang menabur kasih di antara gugusan bintang, dan menyelam menuai rindu di dasar samudera. Kita masih menjelajah lelah di sini, menitip asa bersama hujan rindu. Karena resah rasaku kian berkisah untukmu yang aku sayangi.

Semesta Rasa

Aku yang berdiri pada petang selalu membasuh setiap waktu yang berlalu bergegas dengan rindu yang basah padamu. Lalu kutorehkan noktah-noktahnya pada tepian senja yang jatuh setiap hari, dengan sebuah harapan sederhana : Agar senja yang membawa lengket rindunya itu akan menyapa rembulan yang
sebentar lagi akan timbul & bertahta di rangka langit.

Dan cahaya yang dipantulkannya kembali ke mata sejukmu.

Rindu dan jarak, kerapkali menciptakan keanehan. Bahwa rindu pada akhirnya bisa melipat jarak, pada titik terdekat antara kita. Bahwa jarak tak ubahnya
hanya sebuah helaan nafas yang kuat menarik segenap semesta rindu yang terhampar luas &
membuat kita larut pada sesuatu yang mungkin tak pernah bisa kita pahami, kapan mulainya & kapan selesainya.

Semuanya begitu lekas & menyisakan rasa di sudut batin. Kita hanya bisa bersenandung merepih pilu & membuat segenap angan terbang liar mencabik
cakrawala seraya menyimpan segala asa & rindu pada diam, pada keheningan, pada tembang lama yang kita lantunkan & bergema lirih hingga ke sudut sepi sanubari. Karena apa yang kini ada, adalah tempat dimana angin segala musim bertiup & arus semua sungai bermuara.

Bagai gelombang, waktu menggilas apapun tanpa peduli. Segala hal yang indah & pahit telah dilalui, yang selalu saja ada ruang luntuknya. Dimana aku, selalu
melafalkan pelan namamu, "Sang Mawar"

Masih menikmati sunyi tanpamu yang telah bermain-main dengan malaikat kecil dalam mimpi,
bagaimanapun itu, begitu melenakan. Karena aku dan
juga kau selalu berusaha menikmatinya dari detik ke
detik dengan ratap tertahan & harapan yang menggantung di sana.

Matamu mendadak menghangat saat bait demi bait kata-kata ini kau telusuri saat terjaga. Kerap terkulai tanpa daya menggapai asa di lereng langit yang telah beku dicekam gigil rindu lalu luruh satu persatu, serupa hujan membasahi belantara tak berujung.

Memori yang telah terpahat rapi pada dinding rasa adalah rumah
tempat kita pulang & berteduh dari reruntuhan musim. Pada akhirnya, hasrat itu akan kita titipkan bersama pada bentang bianglala, lantas menikmatinya, seraya
berucap lirih :
"Jejak itu akan ada disana, dalam keindahan rindu yang menjelma menjadi pelita berpendar terang yang jatuh di sepanjang perjalanan"